Kisah Kecil Untuk Saudara


Hari jumat tanggal 5 November 2010 dini hari gunung merapi yang sedang berstatus awas kembali mengeluarkan isi perutnya dengan dasyat yang akhirnya membuat hujan abu vulkanik di mana-mana. Hal ini membuat warga d lereng merapi mengungsi lebih jauh dan tentu saja radius bahaya di perluas yang menjadikan jumlah pengungsi bertambah. Pada hari itu beberapa perguruan-perguruan tinggi di Yogyakarta meliburkan aktifitasnya dikarenakan bahayanya abu vulkanik dan perguruan tinggi tersebut dijadikan sebagai tempat mengungsi.

Siang harinya setelah saya melakukan sholat jumat di masjid kampung saya, saya mendapat sms dari sahabat-sahabat saya alumni SMA N 3 Bantul 2010 untuk menjadi relawan bencana merapi, saya berkali-kali dirayu dengan sangat lembut oleh sahabat dekat saya Ninda RR, saya ingin bergabung tapi apa boleh buat pada saat itu saya sedang di ganjar oleh Allah SWT dengan radang tenggorokan yang membuat saya sampai tidak bisa berbicara.

Hari berikutnya Sabtu tanggal 6 November 2010 sahabat-sahabat saya yang ikut jadi relawan berinisiatif untuk membangun posko tersendiri yang ditujukan ke alumni SMA N 3 Bantul untuk penggalangan dana pada hari Minggu-nya. Pada kesempatan ini saya mulai bergabung meski dengan tenggorokan yang masih sedikit sakit. Pada hari Minggu tanggal 7 November 2010 kami berkumpul di SMA N 3 Bantul untuk penggalangan dana, yang rencannya dana itu akan langsung di sumbangkan melalui BEM di salah satu perguruan tinggi negeri yang sahabat saya mempunyai koneksi. Tapi sayang pada hari itu saya hanya ikut setengah hari karena masih perlu istirahat. Dan sore harinya saya mendapatkan sms bahwa posko masih dibuka di rumah teman saya Qodrat Wahyu yang berada di Bejen Bantul, saya meluncur ke rumah teman saya itu. Di sana dana yang terkumpul masih belum banyak, dan ditunggu sampai malam. Selanjutnya kami merapatkan kembali bagaimana penyalurannya. Yang semula hanya akan disalurkan berbentuk uang saja akhirnya kami berinisiatif dengan membelanjakannya dengan barang-barang yang sekiranya sangat dibutuhkan, hal ini ditujukan agar bantuan yang kami salurkan bisa tepat sasaran.

Keesokkan paginya kami berkumpul di rumah teman saya itu untuk membelanjakan uang yang terkumpul itu, uang itu kami belanjakan mulai dari susu dan bubur balita, makanan kecil, selimut, pakaian pantas pakai, peralatan MCK sampai mainan anak-anak,dan masih banyak barang lainnya. Kami bekerja dari belanja,packing,dll sampai sore hari menjelang isya yang ditutup dengan makan bersama yang diberi oleh orang tua teman saya itu.

Saat itu saya tidak ikut mengurus bagaimana pendistribusiannya, karena sudah ada teman saya tersendiri yang mengurusinya. Teman saya mempunyai koneksi ke relawan senior dari PMI Bantul yang memerintahkan kami agar mendistribusikan ke daerah sekitar terminal jombor.

Setelah saya pulang dari rumah teman saya itu saya mendapat sms dari teman saya itu kalau diminta bantuannya berupa mobil pick up dan saya supirnya pada hari Selasa pagi tanggal 9 November 2010 untuk pendistribusian. Karena saya tahu distribusinya tidak terlalu jauh maka saya menyetujuinya. Malam harinya saya mengkonfirmasi ulang, ternyata ada perubahan rencana, teman saya mendapat intruksi dari relawan senior agar tidak mendistribusikan bantuan di Yogyakarta karena bantuan sudah menumpuk katanya, lalu kami di minta untuk mendistribusikan ke desa Piyungan Blabak Magelang yang katanya di daerah sana belum tersentuh bantuan. Pada saat itu saya bingung, daerah tujuannya diluar kemampuan saya berkendara dan saya belum berani membawa mobil jauh-jauh. Di sisi lain saya sudah menyepakatinya, dan kalau saya membatalkan kesepakatan itu saya tahu akan kacau semuanya, karena hari pendistribusiannya tinggal esok paginya. Lalu saya mengkonfirmasi ke teman saya tersebut.

Hari Selasa pagi tanggal 9 November 2010 saya datang duluan ke rumah teman saya itu untuk membahas bagaimana baiknya, di rumah teman saya itu sudah ada beberapa teman yang datang. Saya mulai bicara kalau saya tidak sanggup dan karena saya sudah menyepakatinya maka saya akan bertanggung jawab dengan menyewakan mobil di Aselia Transport beserta sopirnya, teman-teman saya cukup lama memutuskan. Dan akhirnya mereka menerima ide saya, tapi alangkah beruntungnya, saya tidak jadi menyewa supir karena salah satu teman saya yang bernama Danardono Tunggul bersedia menjadi supir karena sudah banyak pengalaman berkendara. Setelah itu teman-teman yang berkumpul semakin banyak, saya dan Tunggul meluncur ke Aselia Transport untuk meminjam mobil tertutup dan motor saya sebagai jaminannya. Saya dan Tunggul kembali ke rumah teman saya yang di Bejen dengan membawa mobil. Akhirnya kami memasukkan semua barang ke mobil, sambil menunggu relawan senior yang menjadi penghubung kami tersebut. Kami berangkat dari Bejen Bantul sekitar pukul 11.00 WIB. Kami berjumlah 12 orang dan 1 relawan senior. Saya, Tunggul, Ninda, Latifah, dan relawan senior berada di dalam mobil sedangkan lainnya naik motor.

Di perjalanan sampai jombor cuaca berubah dari panas menjadi hujan, dan akhirnya reda sebelum masuk di Muntilan, setelah masuk Muntilan sungguh sangat memprihatinkan, dimana-mana warnanya putih, bagaikan kota mati, banyak material merapi di sana, pasir yang menumpuk di jalan, pohon-pohon yang layu karena keberatan pasir terutama pohon kelapa, bahkan beberapa ada bangunan yang roboh, pasir dan abu dimana-mana. Sampai di pabrik kertas Blabak kami berhenti, menemui relawan senior lainnya yang sudah di kontak dari sebelumnya, kami melanjutkan perjalanan menuju desa Piyungan tersebut, daerahnya jauh di dalam desa, meski jauh dari merapi disana juga sama sperti di Muntilan banyak pasir dimana-mana.

Sampai ditujuan kami istirahat sebentar dan bersenda gurau dengan orang-orang pengungsi disitu, ada pengungsi yang dari 7 km dr puncak merapi yang katanya rumahnya sudah tidak karuan, dan banyak lagi, di desa itu terlihat lengang karena pengungsinya tinggal menginap di rumah-rumah di desa itu, tidak seperti di Maguwoharjo ataupun di gor UNY. Setelah itu kami menyerahkan bantuan yang kami bawa. Dan setelah itu kami memutuskan untuk pulang setelah sholat dhuhur sekitar pukul 14.00 WIB. Saat akan pulang hujan deras kembali mengguyur kami, desa tersebut jalannya cukup sempit, Tunggul memacu mobil mundur dengan sangat hati-hati untuk keluar dari jalan sempit itu tetapi karena derasnya hujan, sehingga tidak kelihatan keadaan diluar, kami menabrak pondasi cor-coran, kami yang di dalam mobil panik, karena mobil pinjaman, memang saat itu keadaannya sulit sekali untuk mengeluarkan mobil dari jalan sempit. Setelah lolos kami tetap panik karena belum mengetahui keadaan mobil sedangkan teman-teman kami yang bersepeda motor sudah berangkat duluan. Akhirnya di derasnya hujan saya dan Tunggul keluar melihat kondisi mobil, dan ternyata yang menabrak tadi hanyalah ban belakang saja, betapa leganya kami. Akhirnya kami pulang dan sampai di Bejen pukul setengah empat sore, lalu aku dan Tunggul mengembalikan mobil pinjaman tersebut.

Setelah semua selesai, kami merasa sangat senang dan lega bisa membantu, meskipun barang yang kami bantukan tidak seberapa tapi bisa mengurangi sedikit beban saudara-saudara kita yang tekena bencana merapi. Dari hal ini dapat dipetik beberapa hal yang positif, jika kita membantu dengan ikhlas semuanya akan berjalan lancar, memang akan ada rintangan yang menghadang, tetapi pasti akan ada solusinya. Hal yang saya lakukan itu mungkin belum bisa disebut sebagai relawan tetapi bukanlah menjadi relawan atau tidak yang penting niat yang ada, niat untuk membantu saudara yang sedang terkena musibah, karena manusia hidup tidak sendiri.


Comments

Popular posts from this blog

Cheat Call Of Duty Modern Warfare 2 (COD MW2 PC) PC

Pendaftaran SIM Online di Polres Bantul